Akan ada banyak orang termasuk mungkin anda, yang jatuh miskin, tabungan kian menipis, tak lagi punya penghasilan, dan dipaksa untuk
bekerja serabutan saat usia kian menua.
Saya sering menemukan kata-kata ini beredar di masyarakat:
…”Yah, kita serahkan saja pada yang diatas. Rezeki sudah ada yang mengatur”... Jika kalimat ini disertai dengan ikhtiar yang cermat dan sistematis, maka statement itu baru punya makna.
…”Yah, biarkan hidup mengalir saja, mas”... Yaa kalau mengalirnya ke samudra atlantik, keren. Kalau mengalirnya ke septic
tank, Modyar.
“Yang lebih sering kalimat itu diucapkan sekedar sebagai bentuk pelarian dari kenyataan hidup yang pahit”. Kalimat menghibur diri yang kosong makna, baru sadar kalau uang di tabungan benar-benar nol.
Yang lebih pahit kalimat yang terkesan bijak itu digunakan untuk menutupi ketidak mampuan dirinya dalam melakukan perencanaan keuangan.
Terus saja menghibur diri dengan kalimat indah, sampai suatu hari tersadar, tak ada lagi harta yang bisa diwariskan kepada anak-anak. Yang tak kalah pahit: hitungan kebutuhan tabungan saat kita memasuki usia pensiun memang agak menyeramkan lho…
Hiii ngeriii….
^_^
Agar kelak saat usia 60
an, kita tak lagi harus naik busway/kereta setiap pagi, berjalan menembus kemacetan dengan penuh kesesakan. Demi sesuap nasi. Agar hidup kita bisa diteruskan hingga ajal menanti.
Pengeloalaan keuangan anda agar tetap stabil

